Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan
Wawancara Bersama Wiranto *
Arya Sinulingga: Hanura lebih kuat di daerah dibanding di pusat. Apa karena itu Hanura bisa lolos?
Wiranto : Iya betul. Walaupun DPR pusat kami nomor sembilan.Tapi untuk DPRD kami nomor lima. Hampir seribu, itu yang memudahkan kami untuk bergerak.
Arya Sinulingga: Anda mengajak partai-partai yang tidak lolos untuk ikut Hanura. Tapi, apa mereka bisa mengikuti platfrom Hanura?
Wiranto: Ya mau tidak mau ya harus mengikuti. Karena memang konsep kami membangun Hanura memang berdasarkan dari satu keinginan agar para calon pemimpin dididik partai politik. Partai politik yang memiliki otoritas mendidik calon pemimpin sesuai dengan konstitusi kita. Mereka sudah kita biasakan untuk menggunakan hati nurani jangan sampai terjebak kepada adidium di partai politik bahwa partai politik itu kotor, bahwa di wilayah politik itu menghalalkan semua cara. Kalau ini terus kita biarkan, ya sama saja kita mendidik calon pemimpin dengan cara-cara yang kotor.
Arya Sinulingga: Bagaimana sikap Hanura dengan RUU Kamnas? Kabarnya Hanura lagi menunggu jawaban anda.
Wiranto : Begini sebenarnya RUU Kamnas itu memang perlu ya. Negara tanpa undang-undang keamanan nasional itu sama saja kita membiarkan negeri kita telanjang tanpa suatu upaya-upaya untuk menggamankan situasi negri ini yang merupakan persyarataan untuk kita bisa membangun. Sebab tidak mungkin kita membangun tanpa keadaan yang aman. Tidak mungkin kita membangun negara dalam keadaan yang tidak kondusif.
Maka mesti kita masuk ke wilayah yang aman itu. Nah ini butuh undang-undang itu. Hanya saja undang-undang itu jangan hanya kemudian memberangus demokrasi yang sedang berjalan. Jangan sampai undang-undang itu kita buat bertabrakan dengan demokrasi yang sedang kita bangun. Kami bermain di situ jadi kami hanya mencermati beberapa pasal-pasal dari undang-undang Kamnas yang kami anggap harus ada suatu modifikasi sehingga tidak bertabrakan dengan proses demokrasi yang sedang kita bangun.
Arya Sinulingga: Soal demokrasi, dulu ketika presiden Soeharto akan turun, ada sebuah surat yang sama seperti Supersemar. Sepucuk surat untuk mengambil kekuasaan. Kenapa anda tidak mengambil kesempatan itu?
Wiranto : Sebenarnya begini, itu kan intruksi presiden. Kepanjangan dari Tap MPR nomor 5 bahwa presiden dalam keadaan krisis di negeri ini berhak untuk melakukan langkah-langkah khusus. Maka beliau menerbitkan surat perintah itu. Intinya memberikan kekuasaan kepada saya untuk melakukan kebijakan tingkat nasional apapun yang diperlukan dan membantu apa yang saya lakukan. Dan saya sebagai panglima komando operasi keselamatan negara waktu itu.
Artinya apa, dengan surat itu kita memang bisa menggumumkan darurat militer di wilayah internasional, kemudian mendirikan pemerintahaan sementara. Kemudian baru dipercepat seperti yang dilakukan di Thailand. Tetapi waktu itu, pertimbangannya begini. Apa manfaatnya kalau kita lakukan itu? Setelah kita kaji, maka ternyata manfaatnya kecil. Kita akan mendapatkan reaksi yang luar biasa. Baik internal domestik maupun internasional. Akan memberikan cap Indonesia masuk ke rezim militer. Biasanya rezim militer tidak diterima dalam komunitas internasional. Akan ada suatu embargo ekonomi. Padahal dalam negeri sendiri saya melanjutkan pemerintahaan yang sedang jatuh dengan sepucuk surat dari presiden yang baru di jatuhkan. Berarti akan ada anggapan bahwa saya melanjutkan pemerintahan yang lama.
Arya Sinulingga : Legitimasinya kurang?
Wiranto : Pasti akan berhadapan, berlawanan dengan rakyat. Tidak pernah ada seorang pemimpin yang melawan rakyat. Itu kan yang terjadi di domestik apalagi keadaan ekonomi sedang terpuruk waktu itu kan. Kita butuh bantuan internasional.
Pada saat internasional tidak membantu yang terjadi di Indonesia seperti apa. Belum lagi korban, mahasiswa akan bertambah. Karena itu saya putuskan bahwa pada saat saya kembali ke markas ya staf saya bertanya apa saya akan ambil alih, saya katakan tidak, mari kita antarkan sesuai konstitusi yang ada.
Arya Sinulingga: Sebagai aktivis, waktu itu kami kaget Prabowo tiba-tiba press confrence. Kami semua kebingungan. Ada rahasia sejarah yang sampai hari ini masyarakat tidak tahu bagaimana bisa Prabowo tertinggal di sini, sementara anda pergi ke Jawa Timur pada saat itu. Bagaimana bisa terjadi?
Wiranto : Pak Prabowo ikut.
Arya Sinulingga : Ikut?
Wiranto : Tetapi begini ya, saya jelaskan supaya jelas kepada masyarakat. Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu tidak punya kewenangan komando walaupun namanya panglima cadangan strategis. Tugasnya hanya membina, pasukan pemukul cepat, strategis sebagai cadangan. ABRI waktu itu yang menggerakan hanya atas komando panglima ABRI.
Jadi kalau Panglima Kostrad menggerakan pasukan atas perintah dia, tidak akan dituruti oleh pasukan. Karena yang diikuti hanya pangglima ABRI. Panglima Kostrad adalah sebagai satu komando pembina dari unit-unit yang nanti akan diserahkan kepada panglima. Jadi jangan sampai disalah artikan bahwa seorang Panglima Kostrad bisa berbuat apa saja dengan pasukan.
Arya Sinulingga: Kenapa Prabowo di pecat oleh militer pada waktu itu? Apa latarbelakangnya?
Wiranto : Itu bukan karena permasalahan pasukan. Kelanjutan dari masaah penculikan.
Arya Sinulingga : Apa memang terbukti Prabowo melakukan penculikan?
Wiranto : Ya, kalau tidak ada tentunya tidak dipecat.
Arya Sinulingga : Kenapa tidak ditangkap atau dipenjara, kalau memang terbukti?
Wiranto : Prosesnya kan ada. Kalau saya jelaskan satu jam tidak cukup. Karena ada satu pemilahan antara misscontrol dari seorang panglima. Satu lagi over reaksi dari suatu perintah. Semua ada prosedurnya. Dewan kehormatan kemudian memeriksa, kemudian memberikan suatu kesimpulan dan memberikan rekomendasi.
Arya Sinulingga : Apakah karena mantu dari Soeharto dia tidak dipenjara?
Wiranto : Oh tidak, justru waktu itu Pak Harto sendiri dan Pak Habibie menyerahkan kepada ABRI. Saya juga tidak mengambil keputusan pribadi. Tapi saya terakhir berikan pada Dewan Kehormatan Perwira yang terdiri dari banyak perwira bintang empat dan bintang tiga.
Arya Sinulingga : Dengan tindakan itu, sebenarnya seharusnya di penjara atau tidak?
Wiranto : Ya kenyataanya memang Dewan Kehormatan Perwira menyarankan supaya ada pemberhentian dari dinas militer.
Arya Sinulingga : Padahal kasusnya sangat berat. Penculikan itu kan menghilangkan orang?
Wiranto : Orangnya kan ada. Dibebaskan semua.
Arya Sinulingga : Sejarah ini penting diketahui oleh generasi muda. Ini kenapa kita tanya kepada sumber utamanya, yaitu anda.
Wiranto : Prabowo itu karena masalah penculikan kemudian diberhentikan dari milter. Kemudian anak buahnya yang melaksanakan proses penculikan itu diberikan hukuman sesuai dengan tingkatan keterlibatan mereka.
Arya Sinulingga : Saya pernah lihat foto anda saat sedang berbicara ada Pak SBY di belakangnya.
Wiranto : Dia kepala staff Sospol waktu itu. Saat saya menyatakan menggundurkan diri dari proses pencalonan presiden dan wakil presiden, saya memilih untuk mengamankan proses daripada masuk proses.
Arya Sinulingga : SBY kader anda di militer, bagaimana anda melihat kepemimpinan SBY. Seperti yang kita ketahui banyak kejadian beberapa waktu lalu. KPK melawan polisi. Lalu ada menteri yang satu dengan menteri lain ribut. Ini masalah kepemimpinan. Apa ini ciri leadership militer?
Wiranto : Begini, militer ini merupakan sebuah intitusi yang punya ciri khas. Tetapi tidak semua militer seragam di dalam berfikir dalam melakukan langkah-langkah yang di sebut leadership. Maka dalam militer pun di bagi-bagi. Seperti saya saat masuk akademi militer, itu psikotes pertama adalah pantas tidak seorang ini menjadi seorang militer. Lalu, tiga tahun kita masuk akademi militer.
Setelah hampir lulus, kita di psikotes lagi dia masuk golongan manusia penempur atau bukan. Fighter or not fighter. Yang bukan fighter masuklah bagian perlengkapan, bagian kesehatan, yang tempur dia masuk ke infantri, kavaleri. Lalu kita bertugas masuk skuad hampir lulus di tes lagi, psikotes lagi. Jadi seorang stafer atau commander untuk persiapan nanti ke panglima atau ke staf.
Dengan demikian di militer pun sudah sadar bahwa tidak semua anggota militer mempunyai suatu karakter yang sama. Sehingga kemudian di situlah ada psikotes kemudian di arahkan. Tetapi di sipil kan tidak ada.
Arya Sinulingga : Untuk SBY sendiri bagaimana?
Wiranto : Ya, saya sendiri tidak punya hak. Tidak punya referensi beliau bagian mana ini. Tapi, karakter seorang komandan itu macam-macam, karakter pemimpin juga macam-macam. Ada yang cepat menggambil keputusan tanpa berfikir belakangan. Ada yang berfikir lambat, lama menggambil keputusan. Bahkan ada yang tidak menggambil keputusan karena takut ada resiko. Kita tinggal pilih aja masuk kategori mana?
Arya Sinulingga : Seringkali banyak energi terbuang karena berbagai pertentangan di negeri ini. Itu bagaimana?
Wiranto : Yang saya ketahui, karena saya pernah mendampingi tiga presiden. Presiden Soeharto, Habibie sepanjang karier beliau sebagai presiden saya mendampingi terus menerus, kemudian presiden Abdurrahman Wahid saya mendampigni beliau. Paling tidak saya punya referensi bagaimana pemimpin yang pas untuk memimpin untuk negara yang sedemikian luas, besar, dan banyak penduduknya.
Saya melihat Presiden itu kurang lebih dari antara lima hingga delapan keputusan, everyday, setiap hari. Kalau dia menunda satu hari dua keputusan, besok sudah akan bertambah. Menunda lagi besok akan bertambah lagi. Dan keputusan-keputusan yang di ambil dalam keadaan terlambat. Sayangnya tidak pernah ada di Indonesia ini kursus presiden. Tidak pernah ada sekolah jadi presiden. Ini yang saya pertanyakan, bagaimana ini? Calon presiden sudah cukup banyak kan, apa tidak kursus dulu supaya tidak kaget terpilih menjadi presiden.
Arya Sinulingga : Jadi apa SBY kaget juga saat jadi presiden?
Wiranto : Hahahaha tanya sendiri.
Arya: Sebagai calon presiden, menurut anda apa kekurangan Presiden saat ini? Apa yang perlu dibenahi?
Wiranto: Sangat subyektif jika saya membicarakan kelemahan seorang kepala negara.
Yang bisa saya katakan negara ini dalam kompetisi global memerlukan sutu keputusan-keputusan yang cepat untuk kita tidak ketinggalan dengan dinamika global yang sangat cepat. Sebab, ketika kita terlambat mengambil keputusan, kita kehilangan peluang-peluang kompetisi global.
Cukup banyak keputusan-keputusan yang bisa lebih cepat. Misalnya seperti beberapa kasus-kasus korupsi yang saat ini merebak ya, harusnya cepat diputuskan walaupun dalam tanda kutip, presiden mencampuri urusan-urusan badan-badan lain.
Arya Sinulingga: Selain itu, masalah apa yang juga harus ada campur tangan Presiden?
Wiranto: Misalnya saja keputusan tentang masalah PSSI, ini saya juga agak gemas. Satu cabang olahraga yang digemari seluruh rakyat Indonesia yang kemudian ada duel kepengurusan. Ada duel penyelenggara kompetisi yang masing-masing tidak mau mengalah. Kemudian membuat masyarakat menjadi gemas. Dan celakanya lagi membuat olahraga nasional kita sangat terpuruk.
Ini berarti kan bukan permasalahan organisasi. Sudah masalah bangsa Indonesia. Nah, bagaimana pemerintah kenapa tidak cepat. Kenapa tidak ada langkah cepat. Pak Agung Laksono kan jadi suatu tim peyelamat, tapi ya dibenarkan kok mengambil langkah yang cukup kuat. Ini kan contoh.
Arya Sinulingga : Anda akan kembali maju sebagai calon presiden di 2014 yang ketiga kalinya. Apa tidak bosan nih jadi capres?
Wiranto : Perjuangan tak kenal bosan ya. Kalau saya mencalonkan diri lagi ini bukan masalah bosan atau tidak bosan. Tetapi, ada perjuangan yang belum selesai. Jadi, kalau saya sudah mencalonkan diri dua kali tidak berhasil kemudian saya males atau trauma. Perjuangan saya untuk menjadi presiden saja padahal tidak. Tidak hanya semata-mata jadi presiden tapi ingin menjadi bagian dari negeri ini untuk bisa berubah.
Arya Sinulingga : Sebenarnya anda dulu salah atau tidak memilih Golkar sebagai basis?. Sebab Golkar dulu sangat terpuruk di masyarakat. Jangan-jangan itu faktor anda kalah?
Wiranto : Ya, bisa saja seperti itu ya. Tetapi kan faktor-faktor kekalahan bisa dari yang lain. Bisa dari masalah partainya, bisa dari publiknya, bisa dari masalah penyelenggaran yang tidak fair. Macam-macam lah. Tetapi saya tidak akan menyalahkan siapapun. Yang pasti kekalahan bagi saya merupakan suatu pembelajaran supaya kedepannya saya bisa lebih berhitung, lebih berhati-hati untuk melaksanakan atau berkompetisi di 2014.
Arya : Apa evaluasi anda terhadap kekalahan dulu?
Wiranto : Begini, masyarakat Indonesia itu secara politis masih belum diberikan pembelajaran. Itu kan tugasnya partai politik ya sebenarnya. Memberikan pembelajaran politik supaya saat pemilu masyarakat tidak salah memilih pemimpin yang punya kompetensi. Kalau kita tidak punya pemahaman untuk memilih pemimpin yang punya kekutan, punya kompetensi, punya kualitas ini kan yang rugi negara juga yang rugi masyarakat.
Masalahnya adalah, sekarang kita kan masuk pemilihan langsung, tatkala masyarakat kita secara ekonomis masih banyak yang miskin, sehingga tawaran-tawaran dalam tanda kutip money politic.
Arya : Itu selalu terjadi ?
Wiranto : Ya, itu selalu terjadi. Maka itu kita perlu batasi dan inilah tugas dari KPU, Panwaslu, sekarang ada lagi badan kehormatan penyelenggara pemilu. Ini yang harus membumi untuk mencegah berkembangnya praktek-praktek itu. Ini yang membuat kompetisi itu tidak fair. Output dari dua pemilu itu tidak berkualitas.
Arya : Sekarang kan pemilu agak berbeda dengan sebelumnya, sekarang incumbent tidak ada lagi. Artinya apakah ini ada peluang pemilu kali ini lebih fair?
Wiranto : Ya saya berharap begitu. Sekarang ditambah lagi kecuali KPU dan Panwaslu, ada badan kehormatan. Mudah-mudahan ada satu kontrol yang lebih ketat dalam penyelenggaraan pemilu sehingga masuk ke koridor yang benar. Walaupun tetap mesti diuji ya. Baru di Indonesia punya badan independent pemilu sampai tiga. Di negara lain enggak ada. Apakah ini suatu kelebihan atau kelemahan mari kita coba koreksi.
* Dikutip dari Okezone.com Jumat 18 Januari 2013
Wiranto tentang Kepemimpinan Militer
Militer merupakan sebuah
intitusi yang memiliki ciri khas, namun tidak semua militer seragam di
dalam berfikir dan melakukan langkah-langkah yang di sebut leadership. Oleh karena itu dalam militer pun terdapat pembagian dalam penempatan setiap anggotanya, terlebih bagi seorang Perwira Militer. Seperti misalnya pada saat saya masuk akademi
militer, psikotes pertama yang dijalani adalah penentuan pantas atau tidaknya seorang Wiranto menjadi
seorang militer. Kemudian, tiga tahun kita masuk akademi militer.
Setelah hampir lulus, kita kembali menjalani tes psikolog untuk menentukan apakah kita masuk golongan manusia penempur atau bukan. Fighter or non fighter? Yang bukan fighter masuklah bagian perlengkapan atau bagian kesehatan, yang masuk golongan tempur, maka dia masuk ke infantri dan kavaleri.
Lalu setelah kita bertugas masuk skuad hampir lulus di tes lagi, psikotes lagi. Jadi seorang stafer atau komander untuk persiapan nanti ke panglima atau ke staf. Dengan demikian, di militer pun sudah sadar bahwa tidak semua anggota militer mempunyai suatu karakter yang sama. Sehingga kemudian di situlah pentingnya fungsi umum dari psikotes untuk kemudian di arahkan. Di sipil, penggunaan psikotes yang berlapis-lapis atau berjenjang ini tergolong langka, bahkan disejumlah institusi nyaris tidak ada.
Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa persepsi tentang kepemimpinan seorang militer dapat disamaratakan adalah tidak tepat. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kesamaan dari seluruh anggota militer terhadap semangat dan jiwa persatuan dan kesatuan dalam institusi militer melalui sistem garis komando.
Setelah hampir lulus, kita kembali menjalani tes psikolog untuk menentukan apakah kita masuk golongan manusia penempur atau bukan. Fighter or non fighter? Yang bukan fighter masuklah bagian perlengkapan atau bagian kesehatan, yang masuk golongan tempur, maka dia masuk ke infantri dan kavaleri.
Lalu setelah kita bertugas masuk skuad hampir lulus di tes lagi, psikotes lagi. Jadi seorang stafer atau komander untuk persiapan nanti ke panglima atau ke staf. Dengan demikian, di militer pun sudah sadar bahwa tidak semua anggota militer mempunyai suatu karakter yang sama. Sehingga kemudian di situlah pentingnya fungsi umum dari psikotes untuk kemudian di arahkan. Di sipil, penggunaan psikotes yang berlapis-lapis atau berjenjang ini tergolong langka, bahkan disejumlah institusi nyaris tidak ada.
Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa persepsi tentang kepemimpinan seorang militer dapat disamaratakan adalah tidak tepat. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kesamaan dari seluruh anggota militer terhadap semangat dan jiwa persatuan dan kesatuan dalam institusi militer melalui sistem garis komando.
Presiden, Pengambil Keputusan
Sepanjang karir dan pengetahuan, saya pernah mendampingi tiga presiden RI;
Presiden Soeharto sebagai ajudan, Habibie dan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai menteri. Paling tidak saya punya referensi bagaimana
pemimpin yang pas untuk memimpin untuk negara yang sedemikian luas,
besar, dan banyak penduduknya.
Saya melihat Presiden itu kurang lebih dari antara lima hingga delapan keputusan, untuk setiap harinya. Kalau dia menunda satu hari dua keputusan, besok sudah akan bertambah. Menunda lagi besok akan bertambah lagi. Dan keputusan-keputusan yang di ambil dalam keadaan terlambat. Sayangnya tidak pernah ada di Indonesia ini kursus presiden. Tidak pernah ada sekolah jadi presiden. Ini yang saya pertanyakan, bagaimana ini? Calon presiden sudah cukup banyak kan, apa tidak kursus dulu supaya tidak kaget terpilih menjadi presiden.
Saya melihat Presiden itu kurang lebih dari antara lima hingga delapan keputusan, untuk setiap harinya. Kalau dia menunda satu hari dua keputusan, besok sudah akan bertambah. Menunda lagi besok akan bertambah lagi. Dan keputusan-keputusan yang di ambil dalam keadaan terlambat. Sayangnya tidak pernah ada di Indonesia ini kursus presiden. Tidak pernah ada sekolah jadi presiden. Ini yang saya pertanyakan, bagaimana ini? Calon presiden sudah cukup banyak kan, apa tidak kursus dulu supaya tidak kaget terpilih menjadi presiden.
Wiranto "Produk Orba"
Istilah ini acap kali dibahas dalam sudut pandangan dan pemikiran yang sempit, sehingga memberikan kesan negatif. Bagi saya, hal yang terpenting adalah mengajak seluruh kalangan untuk berpikir jernih dan rasional terhadap "istilah" ini.
Ada beberapa fakta yang tidak akan pernah terbantahkan berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan fakta riwayat hidup saya. Wiranto dilahirkan dan dibesarkan pada masa ORDE LAMA, meniti karir di masa ORDE BARU, dan berlanjut ke masa ORDE REFORMASI membantu Presiden BJ Habibie serta Presiden Gus Dur sebagai menteri. Fakta ini secara jelas menunjukkan bahwa latar belakang kehidupan dan perjalanan karir saya adalah hasil dari KETIGA ORDE diatas.
Satu hal yang menguntungkan adalah bahwa saya memiliki pengalaman hidup di KETIGA ORDE pemerintahan ini dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Orang yang bijak adalah ia yang dapat melestarikan segala kelebihan masing-masing periode, serta memperbaiki segala kekurangan/kesalahan yang terjadi di masing-masing periode. Semoga bermanfaat!
Ada beberapa fakta yang tidak akan pernah terbantahkan berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan fakta riwayat hidup saya. Wiranto dilahirkan dan dibesarkan pada masa ORDE LAMA, meniti karir di masa ORDE BARU, dan berlanjut ke masa ORDE REFORMASI membantu Presiden BJ Habibie serta Presiden Gus Dur sebagai menteri. Fakta ini secara jelas menunjukkan bahwa latar belakang kehidupan dan perjalanan karir saya adalah hasil dari KETIGA ORDE diatas.
Satu hal yang menguntungkan adalah bahwa saya memiliki pengalaman hidup di KETIGA ORDE pemerintahan ini dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Orang yang bijak adalah ia yang dapat melestarikan segala kelebihan masing-masing periode, serta memperbaiki segala kekurangan/kesalahan yang terjadi di masing-masing periode. Semoga bermanfaat!
Latar Belakang keluarga dan awal karir Wiranto
Berikut cuplikan wawancara dengan Peter F. Gontha dalam Program Impact Berita Satu yang ditayangkan di stasiun TV Berita Satu pada tanggal 22 Mei 2012. Bagian I dari wawancara ini berisi seputar latar belakang keluarga, masa kecil, dan sekilas awal karir di militer.
Klip ini berasal dari Akun Berita Satu di Youtube di upload tanggal 3 September 2012.
Klip ini berasal dari Akun Berita Satu di Youtube di upload tanggal 3 September 2012.
Kegemaran dan Kebiasaan Berolahraga
Salah satu pengalaman masa kecil Wiranto yang menarik adalah
kegemaran dan ketekunan berolahraga. Berolahraga sudah merupakan kebiasaan masa
kecil, entah itu sepak bola, berlari, bulu tangkis, berenang, dan lainnya.
Tidak sama sekali disangka bahwa kebiasaan dan kegemarannya ini turut membantu
Wiranto dalam proses masuk tes seleksi militer. Pada saat menghadapi tes fisik calon perwira,
Wiranto tidak mengalami kesulitan sedikit pun.
Dalam perjalanan karir di militer maupun setelah masa pensiun,
tidak mengherankan jika banyak bidang olahraga yang digeluti dan bahkan ikut
berpartisipasi mengelola organisasinya. Sebut saja Karate, Taekwondo,
Bulutangkis, Bridge, dan lainnya. Bahkan Wiranto pernah menjabat sebagai Ketua
Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) yang di antaranya menjadi Juara
Dunia tahun 2000. Wiranto juga sempat menjabat sebagai Ketua Umum Federasi
Karatedo Indonesia (FORKI).
Saat ini, kegiatan olahraga Wiranto tentunya tidak seberat dan
sebanyak masa lalu. Namun olahraga yang masih digeluti dan disempatkan dalam
keseharian termasuk fitness, jogging, berenang dan sedikit bulu
tangkis dan golf. Berkaitan dengan olahraga golf, secara kebetulan Wiranto
termasuk salah satu pendiri dan komisaris di Royal Golf Club Halim. Kesempatan
inilah yang memungkinkan Wiranto aktif berpartisipasi baik dalam organisasi/manajemen maupun sekaligus aktivitas berolahraga golf.
Ketekunan, Kejujuran, dan Disiplin
Wiranto tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat ia akan
menduduki jabatan tertinggi dalam TNI dan bahkan karena profesi yang
digelutinya dengan tekun itu, telah membawanya sempat dekat dengan Orang Nomor
Satu di Negeri ini, yakni Presiden RI. Bagi Wiranto, “Itu bukan obsesi saya,
mungkin itulah garis kehidupan”.
“Alhamdulilah, kalau kemudian Tuhan telah memungkinkan saya
mencapai posisi tertinggi, Jenderal bintang empat, dalam karir saya di TNI”.
Sekilas memang perjalanan karir Wiranto di TNI bagi sebagian kalangan terkesan
mulus, namun bukan demikian kenyataan yang dialami. “Hanya ketekunan,
kejujuran, dan disiplinlah semua ini bisa diraih”. Intinya, tidak ada hasil
terbaik yang bisa raih tanpa kerja keras, keringat, dan bahkan tetes air mata.”
Ketekunan dan kedisiplinannya dalam mempersiapkan diri di berbagai
macam pendidikan dan pelatihan militer membawa Wiranto untuk selalu menjadi terbaik.
Sebagai contoh sederhana, pada saat liburan akhir pekan, Wiranto justru gigih
belajar, mempersiapkan diri, dan memastikan bahwa ia beberapa langkah lebih
maju dari rekan-rekannya, baik secara mental maupun fisik. Hal ini terus dan
selalu terbukti dilakukannya dengan meraih hasil predikat nomor satu pada masa
karir di militer. Kunci karakter inilah yang membawa Wiranto ke pucuk pimpinan tertinggi
militer pada saat itu.
Kesederhanaan
Watak yang tumbuh pada pribadi Wiranto tidak lepas dari didikan kuat ibunya. Kisah nyata, suatu ketika kepada ibunya yang sudah sepuh, Wiranto akan mengiriminya sebuah mobil. Tapi ibunya menolak. Katanya, "Bagaimana nasib tukang becak langganan saya yang mangkal di ujung gang jalan sana?" Kemudian ketika ia akan memperbaiki rumah tinggal keluarganya di Solo pada waktu itu, ibunya pun keberatan. Ibunya khawatir kalau para tetangga justru tidak datang lagi (mirip seperti apa yang terjadi pada rumah tetangganya yang baru direnovasi). Akhirnya, rumah tempat tinggal mereka di Solo, hingga ibunya wafat, dibiarkan sampai keropos.
Sosok Pribadi
….Raut mukanya yang keras dan pembawaannya yang tenang, memang memberikan kesan Wiranto adalah sosok pendiam. Apalagi ia memang sedikit berbicara, seperlunya saja. Inilah kesan pertama yang akan terasa bagi mereka yang pertama kali bertemu dengan Jenderal Wiranto. Namun, namun kesan itu akan segera hilang ketika ia menunjukkan perhatiannya terhadap kawan bicara dan atas topik pembicaraan yang berkembang….
Tentang Cita Cita
Kehidupan masa kecil yang sederhana dan pas-pasan bukan berarti Wiranto tidak mempunyai cita-cita. Sejak usia dini memang Wiranto berniat untuk menjadi tentara. Jika ada anggota keluarga yang bepergian dan bertanya apa yang diinginkannya sebagai oleh-oleh, ia selalu menjawab ingin dibelikan “Topi Baja”. Bersamaan dengan pertumbuhan usia, cita-cita sebagai tentara tersebut sempat berubah. Ketika remaja ia sempat berpikir bahwa ingin menjadi seorang arsitek. Namun cita-cita tersebut tidak terwujud karena faktor ekonomi yang kurang mendukung. Akhirnya Wiranto masuk AMN (Akademi Militer Negara), dengan alasan yang cukup sederhana dan rasional, GRATIS.
Langganan:
Postingan (Atom)